Minggu, 18 Desember 2011

PC.IPNU Jakarta Pusat - NAHNU Bedah Buku pemikiran Gusdur


Jakarta, NU Online
Sepeninggal Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Indonesia telah kehilangan sosok tokoh agung. Tak hanya Indonesia, bahkan dunia internasional pun juga ikut kehilangan beliau. Pasalnya, kehadirannya di dunia telah mewarnai dinamika kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, sekaligus hubungan antar-bangsa di dunia. Menurut KH Said Aqil Siroj bahwa pengaruh pemikiran Gus Dur dirasakan telah membumi dalam “Bola Dunia” (sebagaimana dalam lambang NU).

Dirangkai dengan acara buka puasa bersama, Pengurus Pimpinan Cabang  Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC. IPNU Jakpus) bekerjasama dengan Nadliyin Nusantara (NAHNU) menggelar bedah buku “ 41 Warisan Kebesaran Gus Dur” di Masjid At-Taqwa, Jl. Johar Baru III. Jakarta Pusat, Rabu, 3 Agustus.

Dalam acara ini hadir sejumlah tokoh muda NU sekaligus menjadi panelis diantaranya M Hanif Dhakiri (penulis buku) KH Yusuf Aman (Rais Syuriyah PCNU Jakpus) dan tokoh muda NU Mukhlas Syarkun. Acara ini dimeriahkan pengurus IPNU Se-DKI Jakarta, anggota komunitas NAHNU, PMII,HMI, Korp PMII Putri, pelajar serta dari mahasiswa dan Nahdliyin Jakarta Pusat.

Ketua PC IPNU Jakarta Pusat Muhammad Said, mengungkapkan Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk meningkatkan ibadah  kepada Allah SWT. Bersamaan dengan itu, perlu kiranya warga NU meningkatkankan kader ke-NU annya dengan mengkaji pemikiran Gus Dur.

“Kami siap menerima segala warisan yang diwariskan oleh tokoh-tokoh NU, khususnya Gus Dur,” ujarnya, disela-sela acara buka puasa bersama dan bedah buku tersebut. Muhammad Said mengatakan, bisa mengikuti jejak perjuangan Gus Dur adalah dambaan setiap Nahdliyin.

 “Jadi, acara pada hari ini, selain untuk silaturrahmi juga untuk menerima warisan dari Gus Dur,” ujarnya.

Sementara itu Hanif Dhakiri mengatakan dakwah Gus Dur selalu mengedepankan akulturasi dan penguatan budaya. Artinya, Islamisasi yang dilakukan Gus Dur tanpa merubah tradisi. “Selain itu, politik dan kekuatan Gus Dur adalah dengan silaturrahmi,” tegasnya.

Sedangkan Mukhlas Syarkun mengatakan, Gus Dur itu bukan sekedar tokoh Indonesia, tetapi juga dunia. Karena itu, seluruh warga NU perlu meneruskan cita-cita dan perjuangan Gus Dur. “Jadi, warisan Gus Dur itu mau diapakan,” ujarnya.

Rais Syuriah PCNU Jakarta Pusat, KH Yusuf Aman mengungkapkan, pentingnya puasa dan menuntut ilmu, serta kegiatan-kegiatan positif lainnya. Jadi semangat keilmuan yang harus dikedepankan, dengan acara melakukan kegiatan dab keumatan,” ujarnya.





Redaktur: Mukafi Niam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar